RSS

Diangkat Menjadi ANAK

11 Aug

Dear Sahabats,

Ijinkan aku mengawali tulisanku ini dengan ayat berikut ini,

For you are all SONS OF GOD through faith in Christ Jesus.
(Galatians 3:21 NKJV, penekanan ditambahkan)

Dan,

And because you are sons, God has sent forth the Spirit of His Son into your hearts, crying out,“ Abba, Father!” Therefore you are NO LONGER A SLAVE BUT A SON, and if a son, then an heir of God through Christ.
(Galatians 4:6-7 NKJV, penekanan ditambahkan)

Kedua ayat diatas jelas menyatakan bahwa salah satu BUAH dari karya keselamatan adalah melalui iman kepada Yesus Kristus, kita mengalami perubahan STATUS dari hamba (doulos) menjadi anak (huios = anak yang sudah akil balig/dewasa).

Akan tetapi, harus kita akui, banyak kutemukan anak-anak Tuhan yang masih menganggap dirinya sebagai HAMBA ALLAH, sehingga otomatis ini berpengaruh kepada POLA PIKIR dan BUAH yang dihasilkan.

Bahkan organisasi gereja pun masih banyak yang mengajarkan jemaatnya untuk menjadi “HAMBA ALLAH YANG BAIK” walaupun di sisi lain gereja pun mengakui bahwa kita adalah “ANAK ALLAH”.

Atas dasar ini, jemaat yang bertype kritis, yang tidak menelan mentah-mentah setiap pengajaran, pasti akan merasakan KEBINGUNGAN, manakah yang benar?

Dashyat.

 

Sahabats yang penasaran akan Kebenaran,

Ijinkan aku membawa Sahabats merenungkan sebuah kisah perumpamaan yang dijelaskan Yesus dalam Lukas 15:11-32, tentang ANAK YANG HILANG.

Jika kisah ini dibuat film layar lebarnya, maka bagian penutupnya yang seringkali merupakan klimaks dari kisah tersebut, akan kupilih adegan saat Bapa melihat anak bungsunya pulang dan langsung berlari memeluknya. Ya, kupilih bagian ini karena sangat tepat kujadikan akhir kisah yang “HAPPY ENDING”.

Tapi, tahukah Sahabats ternyata Yesus tidak berhenti sampai disitu? Yesus menambahkan adegan penutupnya dengan kisah anak sulung yang PROTES kepada Bapanya.

Kenapa demikian? Bukankah itu malah membuat ceritanya jadi ANTIKLIMAKS?

Mari kita pelajari bersama-sama.

Pertama-tama, saat mempelajari perumpamaan ini, muncul pertanyaan sederhana dalam benakku,

“Kenapa Bapa tetap memberikan warisan kepada anak bungsu, padahal logikanya Bapa pasti tahu ketidakbijaksanaan si bungsu dalam mengelolanya?”

Jawabannya kuperoleh dari Roh Kudus beberapa waktu kemudian.

Dalam bahasa aslinya, ternyata saat Yesus menjelaskan tentang baik si bungsu dan si sulung, digunakan kata “huios” (anak yang sudah akil balig/ sudah dewasa) bukan “nēpios” (anak yang belum akil balig/ belum dewasa).

Dan dalam budaya saat itu, jika anak sudah dewasa maka OTOMATIS dia berhak memperoleh warisan. Itu sebabnya Bapanya tidak bisa menolak permintaan si bungsu akan haknya atas warisan.

Pertanyaan kedua, yang menurutku merupakan INTI dari kisah perumpamaan ini adalah,

“Apa sesungguhnya tujuan Yesus menjelaskan perumpamaan ini?”

Banyak versi telah kudengar, tapi aku memperoleh penjelasan yang berbeda dari Roh Kudus beberapa waktu kemudian.

Ya, selain menjelaskan tentang karakter Bapa Sorgawi yang MAHA KASIH, perumpamaan ini juga menjelaskan tentang STATUS dan BUAH yang dihasilkan daripadanya.

Si bungsu, sesungguhnya adalah seorang anak yang MENGERTI PENUH statusnya sebagai anak, oleh karenanya dia MENGERTI PENUH tentang haknya atas warisan Bapanya. Itulah yang membuat dia dengan yakin menghadap kepada Bapanya dan meminta bagian dari warisan yang menjadi haknya. Sayang, walau demikian si bungsu tidak bijaksana mengelola warisan tersebut.

Si sulung, sesungguhnya adalah seorang anak yang TIDAK MENGERTI statusnya sebagai anak, oleh karenanya dia berpola pikir seperti seorang HAMBA, yang merasa perlu setia melayani dan taat perintah, barulah dia berhak memperoleh “warisan” Bapanya. Sayang, walau selama ini dia telah berupaya keras menjadi HAMBA YANG BAIK, Bapanya malah menegurnya dan berkata,

“And he said to him,‘Son, you are always with me, and ALL that I have IS YOURS.”
(Luke 15:31 NKJV, penekanan ditambahkan)

Dashyat.

 

Sahabats yang dimerdekakan oleh Kebenaran,

Jika kita mau jujur mengakui, banyak anak Tuhan yang sesungguhnya serupa dengan gambaran “Si Sulung”. Kita seringkali tidak menyadari status kita sebagai anak Allah dan buah (implikasi) daripadanya.

Kenapa demikian?

Karena kita seringkali menerima pengajaran yang diambil dari kisah Perjanjian Lama, ataupun saat kisah Perjanjian Baru tapi SEBELUM PERISTIWA SALIB, tanpa menyadari bahwa semua kisah tersebut dituliskan dalam situasi dimana status kita masih HAMBA ALLAH dan belum diadopsi menjadi ANAK ALLAH.

Contoh sederhana, masih banyak organisasi gereja yang mengajarkan jemaatnya tentang kewajiban membayar persepuluhan sebagai syarat untuk diberkati. Berikut ayat yang seringkali digunakan,

Bring all the TITHES into the storehouse, that there may be food in My house, and try Me now in this,” Says the Lord of hosts,“If I will not open for you the windows of heaven and pour out for you such BLESSING that there will not be room enough to receive it. And I will rebuke the devourer for your sakes, so that he will not destroy the fruit of your ground, nor shall the vine fail to bear fruit for you in the field, Says the Lord of hosts;
(Malachi 3:10-11 NKJV, penekanan ditambahkan)

Tanpa menyadari,

Blessed be the God and Father of our Lord Jesus Christ, who has BLESSED us with EVERY SPIRITUAL BLESSING in the heavenly places in Christ,
(Ephesians 1:3 NKJV, penekanan ditambahkan)

Ya, oleh karena karya Salib, Yesus yang kaya telah menjadi miskin agar aku yang miskin dapat menjadi kaya. Oleh karena karya Salib, aku TELAH (bukan akan) memperoleh semua BERKAT di alam Roh. Bagianku tinggal mewujudkannya di alam nyata dengan IMAN.

Atau masih banyak anak Tuhan yang mengalami PENCOBAAN (UJIAN) dari Bapa dalam bentuk masalah, sakit penyakit atau badai hidup, yang didasarkan pada ayat-ayat di Perjanjian Lama seperti kisah Ayub, Nabi Yunus dan lainnya, tanpa menyadari,

Let no one say when he is tempted, “I am TEMPTED BY GOD”; for God cannot be tempted by evil, nor does He Himself tempt anyone.
(James 1:13 NKJV, penekanan ditambahkan)

Dan,

Or what man is there among you who, if his son asks for BREAD, will give him a STONE? Or if he asks for a FISH, will he give him a SERPENT?
(Matthew 7:9-10 NKJV, penekanan ditambahkan)

Ya, wajar jika aku sebagai TUAN menguji hambaku apakah dia setia dan mengasihiku atau tidak.
Tapi, tidaklah wajar jika aku sebagai BAPA menguji anakku apakah dia setia dan mengasihiku atau tidak.

Setelah karya Salib, setelah aku diangkat menjadi ANAK ALLAH, Bapa tidak lagi mencobai ataupun menguji aku. Bahkan, oleh karena korban penebusan yang SEJATI di kayu Salib, Bapa tidak lagi menghukum aku,

There is therefore now NO CONDEMNATION to those who are in Christ Jesus, who do not walk according to the flesh, but according to the Spirit.
(Romans 8:1 NKJV, penekanan ditambahkan)

Dashyat.

 

Sahabats perhatikan baik,

Saat mengajarkan tentang Kebenaran ini, seringkali kudapatkan pembelaan dari Sahabats tentang pentingnya memiliki “HATI HAMBA”. Yang patut disayangkan adalah kesan yang ditangkap dari doktrin tersebut adalah itu berarti memiliki “HATI ANAK” adalah tidak baik. Ya, seringkali doktrin gereja mengambil kesimpulan dari kisah perumpamaan anak yang hilang diatas, bahwa “HATI ANAK” dikonotasikan negatif seperti manja, tidak mau melayani, egois, tidak bijaksana dan banyak lagi yang semuanya negatif.

Tapi benarkah demikian?

Bukankah ada perumpamaan juga yang menggambarkan adanya HAMBA yang tidak baik, tidak setia, licik dan jahat? Bukankah lebih masuk akal jika kita simpulkan baik “HATI HAMBA” maupun “HATI ANAK” bisa baik ataupun tidak?

Mari kita kembali kepada perumpamaan anak yang hilang diatas. Menurutku, TUJUAN Yesus menyampaikan kisah si sulung dan si bungsu adalah agar kita tidak terjebak menjadi keduanya. Kita tidak terjebak menjadi seorang yang sadar penuh statusnya sebagai ANAK tapi tidak bijaksana, sekaligus kita juga tidak terjebak menjadi seorang anak yang berpola pikir statusnya masih HAMBA.

Dan ingat, si sulung walau telah berhasil menjadi “hamba yang baik, taat & setia”, tetap saja DITEGUR Bapanya.

Lalu, kenapa doktrin gereja seringkali kutemukan masih mengajarkan jemaat untuk berupaya menjadi “hamba yang baik, taat & setia” seperti si sulung?

Bukankah sebaiknya kita menjadi seorang yang menyadari statusnya sebagai ANAK ALLAH, dan tetap bijaksana dalam berkata, bersikap dan bertindak? Dan bukankah seharusnya doktrin gereja mengajarkan jemaatnya untuk menjadi demikian? Sehingga organisasi gereja tidak lagi menghasilkan “hamba yang baik, taat & setia” melainkan “anak yang baik, taat & bijaksana”?

Dashyat.

Banyak Sahabats yang masih penasaran dan bertanya tentang ayat ini,

Yet it shall not be so among you; but whoever desires to become great among you, let him be your servant. And whoever desires to be first among you, let him be your slave — just as the Son of Man did not come TO BE SERVED, but TO SERVE, and to give His life a ransom for many.
(Matthew 20:26-28 NKJV, penekanan ditambahkan)

Perhatikan topik yang Yesus sedang jelaskan di ayat tersebut, adalah hubungan MANUSIA DENGAN MANUSIA. Siapa yang ingin menjadi besar diantara manusia, maka dia harus menjadi hamba.

Menarik saat Yesus menjelaskan hubungan MANUSIA DENGAN ALLAH, dengan tegas Dia berkata,

“Not everyone who says to Me, ‘ Lord, Lord, ’ shall enter the kingdom of heaven, but he who does the will of MY FATHER in heaven.
(Matthew 7:21 NKJV, penekanan ditambahkan)

Ya, saat menjelaskan hubungan VERTIKAL, antara diriNya dengan Allah, maka Yesus sangat jelas dalam statusNya sebagai ANAK. Sedangkan saat menjelaskan hubungan HORISONTAL, antara diriNya dengan manusia, maka Yesus sangat jelas dalam statusNya sebagai HAMBA, yakni untuk “MELAYANI BUKAN DILAYANI”.

Sayangnya, yang terjadi sekarang di gereja Tuhan adalah TERBALIK. Banyak pendeta yang tanpa sadar menjuluki dirinya “Hamba Tuhan”, saat berhubungan VERTIKAL dengan Allah memilih status sebagai HAMBA, sedangkan saat berhubungan HORISONTAL dengan sesama manusia, malah memilih “DILAYANI BUKAN MELAYANI”.

Dashyat.

 

Akhirnya Sahabats,

Kini kusadari penuh, STATUS-ku saat berhubungan VERTIKAL dengan Allah sebagai ANAK yang kuperoleh dari karya Salib Kristus.

Kini kusadari penuh, walaupun menjadi HAMBA adalah BAIK, tapi kuyakin menjadi ANAK itu LEBIH BAIK lagi, karena kalau tidak untuk apa Yesus rela berkorban untuk mengangkatku menjadi anak Allah bukan lagi hamba Allah.

Kini kusadari penuh, saat berhubungan HORISONTAL dengan sesama manususia, barulah aku berpola pikir seperti hamba, yang “MELAYANI BUKAN UNTUK DILAYANI”.

Dan semua kesadaran itu, berawal dari Kebenaran yang kupahami tentang “Diangkat Menjadi ANAK”.

BSD, 27 Juli 2015

AnakNya,
Robby Hadisubrata

 
Leave a comment

Posted by on August 11, 2015 in Christians

 

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: